Tuesday, 30 June 2015

Bintang Kejora [part 2]



“kancing baju anda terbuka” laki-laki itu membalikan tubuhnya kembali dan melangkahkan kakinya menjauhi Anci yang kini mukanya sudah terlihat merah padam karena menahan malu. Ingin rasanya ia mengubur kepalanya kedalam bumi untuk menghilangkan rasa malunya itu.
‘AH ANCI, LO ITU BEGO YA TERNYATA, BISA-BISANYA LO CEROBOH GITU’ lagi-lagi Anci meruntuki dirinya karena tidak sadar satu kancing kemejanya terbuka.


**

Pukul 5 sore
Anci melangkahkan kakinya dengan gontai serta wajah yang................jangan ditanya lagi ‘sangat lelah’ yup, hari ini ia harus pulang menggunakan angkutan umum karena uci pamit pulang terlebih dahulu untuk menjemput adiknya di bandara. Dengan malas ia menghempaskan bokongnya pada bangku halte. Capek, panas, sesak, belum lagi bau berbagai macam parfurm yang bercampur dengan keringat. Mulai dari mahasiswa hingga para pekerja kini telah memenuhi halte. Setiap sore hari begini suasana selalu ramai banyak mobil yang berlalu lalang di jalan raya serta para pejan kaki yang berjejer di trotoar. Sesekali Anci melihat kearah bus yang berhenti tepat di di depannya namun baru sajaia melangkahkan kaki untuk masuk tapi bus tersebut telah dipenuhi oleh penumpang lainnya.
Satu jam berlalu, sang mentari telah kembali ke tempat peristirahatannya, semilir angin membelai lembut rambut Anci yang terlihat berantakan.
Ehm
Suara dehaman yang berasal dari samping Anci berusaha memecah keheningan yang sedari tadi tercipta dengan sempurnanya. ‘suara siapa itu, apa suara hantu? Atau psikopat yang sedang mencari korban’ Anci membatin. Dengan ragu ia menoleh ke arah sumber suara. “hai” sapa pemilik suara dehaman tersebut dengan cengiran lebar yang menampakan gigi rapinya. “hai Anci” sapa orang itu lagi karena tak kunjung mendapat respon dari gadis yang duduk tak jauh darinya. Seorang laki-laki bertumbuh tinggi agak gempal dengan rambut yang acak-acakan namun terlihat sexy. Kulit hitam manis serta lesung pipit yang bertengger manis di kedua sudut bibirnya. ‘Damn! Dari mana ia tahu nama gue, apa emang ia seorang psikopat yang sedang mengincar mangsanya, OH MY GOD gue jadii mangsa psikopat’ lagi dan lagi batin Anci  berbicara. ‘ya Tuhan gue belum mau mati, gue masih pangen hidup gue belum nikah Tuhan’ saat ini ia merasa sangat parno.
“hei nama gue Doullino, lo bisa panggil gue Oulli, oh ya gue bukan seorang psikopat”  orang  itu berbicara seakan tau apa yang difikirkan Anci. “lo pasti ga pernah liat  gue kan, tapi gue sering liat lo, kita satu ruangan meja kita berseberangan.” Lagi-lagi orang itu berbica seolah sudah lama saling mengenal. ‘oh Anci kemana aja si lo selama ini orang segede karung goni gini lo ga keliatan’
“gue tau ko lo sangat serius dalam bekerja, oh ya please dong jangan panggil gue karung goni” sambung Oulli seakan bisa membaca fikiran Anci. Anci diam melongo dengan tatapan ‘apa dia paranormal?’ “oh ya gue bukan para normal, gue ngomong gitu karna banyak yang bilang gue kayak karung goni, cukup orang-orang itu aja ya lo jangan ikut-ikutan. Orang-orang mah iri sama badan gue yang  subur makanya ngomong kayak gitu” Anci merasa sedang duduk di dekat kereta api yang sedang melintas.
CIIIIIIIIIIIITTTTTT
Sebuah sepeda motor sedang berhenti tepat di depan Anci dan Oulli.
”Anci, lo belum pulang?” tanya pengendara motor tersebut yang tak lain adalah Uci sahabatnya. “i..iya, gue nunggu bus dari tadi tapi penuh semua” jawab Anci lalu menoleh ke arah Oulli.
“Oulli? Lo beneran Oulli kan? Doullino Holmes Barreto” Uci meyakainkan bahwa ia tidak salah orang dan orang yang duduk di sebelah sahabatnya itu adalah teman lamanya waktu berlibur ke rumah neneknya di Sumatera. “lo Uci kan? Prennakei Lucia Beauvalot” Oulli mengerjapkan matanya. “wah lo ganteng ya sekarang, kurusan dan tambah tinggi, dulukan lo bulet pendek kayak karung goni BHAHAHAHA” seketika tawa uci meledak. “wah sialan lo ngejek gue” timpal Oulli sambil memukul pelan bahu Uci.
Sedangkan Anci hanya diam melongo seperti orang bodoh melihan kedua insan di depannya sedang bernostalgia ria. Dia tidak mengertiapa yang sedang mereka bicarakan.

***

“Anci, ada hot news lhoo” seorang gadis yang sedang duduk di samping meja kerja Anci berbicara dengan antusias. “emm” gumam Anci sekenannya tanpa berpaling dari layar monitor dan jari lentiknya sedang asik menari-nari di atas keyboard. “dengar-dengar minggu depan ada pesta perayaan ulang tahun Feroyadeglan’s Corperation lhoo dan sekaligus perayaan ulang tahun pewaris tunggal yang tak lain adalah pak Rex, CEO terkece sejagat raya, emmm semua karyawan di undang lhoo siapa ya yang nantinya cewek beruntung yang berdiri di samping CEO kece itu” cerocos gadis tersebut dengan panjang kali lebar kali tinggi *volume dong eh* “Anci?” kata gadis itu sadar bahwa tidak ada tanggapan yang merespon ucapannya. “hei nona Anna Lucia .V” dengan geram dan sedikit keras ia memenggil nama lengkap Anci. “eh iya nona Desi Rechairu Zoullyoangchi” Anci menoleh ke arah gadis itu dan  balas memanggil nama lengkapnya. Ya gadis berkulit putih serta mata sipit yang sering dipanggil Rechai adalah teman dekat Anci di tempat ia bekerja. Memang temannya yang satu itu selalu up-date terhadap berita maupun gosip-gosip yang sedang beredar. Sepertinya ia harus hati-hati dengan temannya yang satu ini agar tidak menjadi bahan gosipan, memangnya apa yang bisa di gosipkan dari seorang Anna Lucia .V ia adalah gadis biasa yang tidak terlalu peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
“Anci lo dengerin gue ga sih, capek ni mulut gue komat-kamit dari tadi” geram  Rechai
“eh tadi lo  ngomong apa?” Anci tersadar dari lamunannya
“Errrrrrgggghhhh ‘Anciiiiiiii” Rechai semakin geram karena merasa percuma berbicara panjang lebar.
“hai Anci, makan siang bareng yuk” suara laki-laki memecah kekesalan Rechai terhadap Anci.
Anci yang merasa terselamatkan mengusap dadanya pelan sambil menghela nafas pelan.
“hai Oulli” Anci membalas sapaan Oulli dengan senyum lebar sambil menganggukan kepalanya cepat tanda ia menyetujui ajakan Oulli.

****

Dan di sinilah mereka, di sebuah caffe yang tak jauh dari tempat kerja mereka. Sebuah caffe yang didominasi oleh warna coklat dan juga putih, sederhana namun membawa aura ketenangan.
Sambil menikmati hidangan mereka “eh Anc, minggu depan lo datang ke pesta ga?” Oulli angkat bicara memecah keheninganyang ada. “pesta?” bukannya menjawab, Anci malah balik nanya dengan guratan tipis di keningnya. “yup, pesta perayaan ulang tahun perusahaan dan juga pak Rex” jawab Oulli seakan faham apa yang sedang Anci fikirkan. “pak Rex?” lagi-lagi Anci bertanya. “ya, Erdhiza Adeorexstance Feroyadeglan seorang CEO sekaligus pewaris tunggal dari Feroyadeglan’s Corperation”
“Erdhiza Adeorexstance Feroyadeglan” Anci berkata dalam hati tengah berfikir kalau nama tersebut familliar di telinga maupun fikirannya.
“eh Anc, lo ko bengong si, jangan bilang lo ga tau lagi big bos kita” Oulli membuyarkan lamunan Anci. “eh iya” Anci tersadar dari lamunannya. “Anci Anci” Oulli hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat temannya itu yang sangat tidak peka terhadap lingkungannya. “Erdhiza Adeorexstance Feroyadeglan” gumam Anci pelan namun pendengaran Oulli cukup tajam untuk mendengarnya. “hei lo kenapa nyebut nama pak Rex, udahlah ga usah difikirin ntar lo juga tau sendiri yang mana orangnya” .
“eh iya gue penasaran mana sih yang namanya Rex Rex Rex  itu” sahut Anci dengan cengiran lebarnya agar tidak terlihat sedang memikirkan sesuatu. “oh ya Ou, gue ke toilet dulu ya” sambung Anci dan Oulli hanya mengangguk. “jangan kangen sama gue ya” sahut Oulli dengan Pdnya. Anci hanya memutar kedua bola matanya lalu beranjak dari tempat duduknya.
BURK
“Aw”
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.

Maaf part yang ini agak pendek, gue ngetiknya pas lagi ngantuk berat jadi harap maklum kalau typo merajalela

Sampai jumpa readers, sampai ketemu di part selanjutnya
Bye
Bye

Miss Uci ({})

Silakan anda berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik bahasan...terimakasih
salam hangat...
EmoticonEmoticon